Begin with the end in mind... saya baca tulisan itu dari buku 7 habits of highly effective people... Maksud dari statement itu adalah Mulailah sesuatu dengan hasil akhir sebagai acuan.
Empat bulan sudah saya menjalankan Project ini, mengalami semangat sekali, semangat, dan drop semangatnya... Program saya masih tersisa 1,5 bulan lagi. Sebetulnya secara angka2 Goal Fitness saya sudah tercapai; Berat badan sudah turun 11 kg, Kadar lemak tubuh sudah average, Body age sudah lebih muda 10 tahun dari sebelum menjalankan project. Apalagi yang bisa memotivasi saya... Apalagi my Personal Trainer baru saya kenal.
Pada saat saya memutuskan mengganti Personal Trainer, Manager di Club saya bergabung menyerahkan sepenuhnya kepada saya siapa yang akan menjadi pengganti Personal Trainer berikutnya.. hihi.. sering banget ya ganti Personal Trainer; ini ke dua kalinya saya ganti Personal Trainer. Sebetulnya semua Personal Trainer mendapatkan ilmu yang sama sebelum mereka menjadi Personal Trainer, yang membedakan adalah bagaimana mereka menggunakan ilmunya dan soft skill yang mereka punya, dan hal tersebut penting untuk diketahui oleh trainee-nya. Salah satu yang diperkenalkan kepada saya adalah Personal Trainer yang baru pindah dari Club lain. Konon menurut Manager Club dan orang-orang lain di Club, Personal Trainer yang ini berkualitas, levelnya lebih tinggi dari yang lain. Tapi menurut teman saya tampangnya koq agak serem yaaaa.. kayaknya galak banget deh.. Agak ragu saya..
Apa yang bisa memotivasi saya? Saya hampir saja memutuskan untuk tidak melanjutkan Project ini. Tapi sayang juga yaaa sesi yang tersisa, saya sudah bayar mahal untuk itu. Akhirnya saya putuskan menerima tawaran Manager Club menggunakan jasa Personal Trainer yang menurut teman saya orangnya serius, tampangnya serem dan berkesan galak. Mungkin dia bisa memberikan tantangan buat saya.
My new Personal Trainer menghubungi saya beberapa jam sebelum berlatih, saya meminta waktu untuk ngobrol-ngobrol terlebih dahulu. Saya ingin mengetahui apa yang bisa saya dapat dari sesi tersisa ini. Saya juga ingin my new Personal Trainer tahu dimana posisi saya sekarang dalam hal level fitness saya dan situasi yang sedang low motivation. Buat saya ini penting untuk diketahui kedua belah pihak, terlebih buat saya yang sedang low motivation. Saya sedang mencari, apa yang bisa membuat semangat saya timbul kembali. Semangat perlu dicari, jangan berharap akan datang dengan sendirinya. Kita yang memutuskan untuk bersemangat atau tidak; bukan orang lain, bukan lingkungan, bukan situasi.
Setelah berbincang-bincang, dilakukan pengecekan "vital sign" tubuh dan pengukuran bagian-bagian tubuh spt lingkar lengan, leher, perut, dll. Dari hasil pengecekan; secara umum "vital sign" tubuh menunjukaan perbaikan dibandingkan sebelum Project. Ya iya laaahhh... masa gak ada perbaikan... bisa komplain saya kalau gak ada perbaikan yang significant. Ini hasilnya :
1. Berat Badan turun 11 kg; dari 65 kg menjadi 54 kg
2. Kadar lemak turun 7%; dari 35% menjadi 28%
3. Usia Tubuh turun 10 tahun dibandingkan sebelumnya.
Tapi kalau dilihat lebih detil, di bagian-bagian tertentu tubuh, kedar lemaknya masih tinggi. Seperti di lengan, perut, dan paha, secara fisik keliatan juga sih kalau masih agak banyak timbunan lemak di bagian tersebut.
Dari hasil pengecekan tersebut, diputuskan bahwa Goal Fitness selanjutnya adalah menurunkan kadar lemak di bagian-bagian tertentu, pengencangan tubuh, dan melatih fleksibilitas tubuh.
Namanya juga Personal Trainer baru, dia perlu waktu untuk melihat sampai dimana kemampuan saya. Setelah berlatih di hari pertama dengan Personal Trainer baru, ternyata masih banyak yang perlu saya perbaiki. Pada saat berlatih Cardio, terlihat sekali kalau otot jantung dan paru-paru saya belum kuat. Saya terlihat berat melakukan treadmill dengan kriteria yang ditentukan-nya (beda soalnya treadmillnya sama PT lama) dan terlihat sangat lelah hampir tidak kuat. Menurutnya, Latihan Cardio sangat penting, karena itu adalah pondasi. Percuma kalau bentuk badannya bagus tetapi Otot Jantung dan Paru-parunya tidak kuat. Iya juga sih... secara itu organ tubuh yang membuat kita hidup bukan???
Pada saat angkat beban, terlihat Core Muscle atau otot inti saya juga belum kuat..., yeaaaahhhhh..... kemana aja ya kemarin latihannya?? koq belum kuat siiihhhh.... Apa standard PT baru ini terlalu tinggi kali... hihihi... alasannnn. Perasaan kemarin oke-oke aja tuh.. koq jadi kurang oke... Kalau Core Muscle belum baik, berarti penurunan Berat Badan saya lebih banyak karena pengaturan pola makan bukan karena otot yang terbentuk. Hahay.... agak sedih dengernya... Tapi gak usah balik ke belakang deh... Let's move on!!
Ini kesimpulan, dimana saya berada pada saat itu :
1. Berat badan sudah cukup
2. Secara fisik, terlihat tubuh saya belum kencang
3. Power/tenaga masih kurang karena otot yang terbentuk belum baik
4. Kemampuan Cardio saya masih 65%, masih terlihat lelah pada saat berlatih cardio
Waaaahhh saya tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk memperbaiki hal-hal tersebut. Saya kembali bersemangat!! Saya akan fokus di hasil akhir yang akan dicapai... Begin with the end in mind...
Kita lihat 1 bulan ke depan yaaaa....
Jumat, 26 Februari 2010
Sabtu, 20 Februari 2010
Ooowww Maceeettt.........
Jakarta Ooo Jakarta.... Macet bukan hal yang aneh, udah jadi salah satu trademark-nya bukan?? Pagi udah pasti macetnya, semua pendatang Jakarta berhamburan dari kediaman masing-masing demi mencari "Sebongkah Berlian". Juga yang masih menuntut ilmu; dianter sopir, bawa mobil sendiri, motor, berseragam abu2, biru, batik, kotak-kotak; gak kalah banyaknya.. Belom lagi Metro Mini, Bis ber-AC, Bis non-AC, Bis Feeder Busway... Semua berebutan menggunakan jalan yang sama yang kayaknya susah lagi untuk dilebarin.. Jam Pulang kantor gimana?? Samaaaaa, gak berkurang macetnya. apa lagi kalau lagi musim hujan.. waaahhhh bisa 2 - 4 jam sampe di rumah... What's a life...
Saya ada di salah satu bagian dari kehidupan itu... Rumah di pinggiran Jakarta, mencari "Segunung Berlian" ke beberapa tempat yang berbeda setiap hari. Nggak pake sopir; nyetir sendiri.. Mobilnya bukan yang Matic alias Manual... Gak kalah jago nyetirnya sama sopir Metro Mini..
Pagi ini kebetulan hujan merata.. dari rumah hingga kota Jakarta diguyur hujan yang lumayan... Udah pasti dong lebih macet dari biasanya... Hari ini tujuan saya adalah daerah Senayan.. Berangkat dari rumah dengan hati yang ikut menjadi dingin, menembus jalanan diiringi lagu yang bisa membuat semangat. Tidak ada hambatan yang berarti dari pintu gerbang perumahan, jalan propinsi, hingga masuk Tol.. ooo senangnya tidak perlu menginjak kopling dan rem.
Menjelang keluar tol, terlihat antrian mobil yang cukup panjang dengan 2 jalur kendaraan... Agak ragu saya memilih; ambil kiri atau kanan.. Kiri berarti ikut dalam antrian tersebut, kanan berarti tidak ada antrian, tetapi harus bayar tol lagi untuk jarak kurang dari 2 km. Saya putuskan ambil kanan; relakan deh Rp 7000,- bayar tol untuk 2 km jalan. Alhamdulillah tidak ada antrian hingga keluar tol berikutnya.. Gak rugi deh bayar... Semakin semangat saya menyetir mobil dan ikut bernyanyi..
Lampu merah terlihat kurang lebih 200 meter di depan, saya harus belok kiri... begitu belok kiri... Hup!! Mobil harus berhenti; ternyata padat!! Mobil maju perlahan dan hanya beberapa meter, kemudian berhenti lagi. Beberapa saat kemudian, jalan lagi.... hup!! berhenti lagi.. Begitu seterusnya sampai kurang lebih 3 km yang memakan waktu kurang lebih 45 menit... Terpaksa kaki kiri saya berkali-kali menginjak kopling, kaki kanan berkali-kali menginjak rem bergantian dengan gas... Oow.. kasiannya ini kaki...
Saya jadi inget pada saat berlatih di Fitness Center... Pada saat bolak balik menginjak kopling, kaki saya berlatih otot apa ya??? Sepertinya otot yang di pergelangan kaki, betis, dan paha bagian depan... Berapa repetisi ya tadi?? Lebih dari 30 kali repetisi kayanya... Berapa set ya?? Hahaha... Terus peregangannya gimana?? Kata Personal Trainer; kaki yang berlatih diangkat dan diluruskan ke kursi dengan posisi kita tetap berdiri, kemudian tangan memegang ujung jari-jari dan ditarik ke arah badan. Kemudian, dengan posisi berdiri, kaki dilipat ke arah belakang untuk peregangan di bagian paha depan... Waduh... tapi yang berlatih cuman kaki kiri yaaa... gimana nih yang kanan? Gerakkan kaki kanan seolah-olah sedang nyetir dan macet di jalan... Bener gak siiihhh??? Hihi.. ntar tanya lagi deh...
Dalam setiap kesempatan; meskipun keadaan kurang menyenangkan... selalu ada sisi positifnya.. kalaudicari.com
Selamat mencoba mencari sisi positif dari keadaan kurang menyenangkan...
Saya ada di salah satu bagian dari kehidupan itu... Rumah di pinggiran Jakarta, mencari "Segunung Berlian" ke beberapa tempat yang berbeda setiap hari. Nggak pake sopir; nyetir sendiri.. Mobilnya bukan yang Matic alias Manual... Gak kalah jago nyetirnya sama sopir Metro Mini..
Pagi ini kebetulan hujan merata.. dari rumah hingga kota Jakarta diguyur hujan yang lumayan... Udah pasti dong lebih macet dari biasanya... Hari ini tujuan saya adalah daerah Senayan.. Berangkat dari rumah dengan hati yang ikut menjadi dingin, menembus jalanan diiringi lagu yang bisa membuat semangat. Tidak ada hambatan yang berarti dari pintu gerbang perumahan, jalan propinsi, hingga masuk Tol.. ooo senangnya tidak perlu menginjak kopling dan rem.
Menjelang keluar tol, terlihat antrian mobil yang cukup panjang dengan 2 jalur kendaraan... Agak ragu saya memilih; ambil kiri atau kanan.. Kiri berarti ikut dalam antrian tersebut, kanan berarti tidak ada antrian, tetapi harus bayar tol lagi untuk jarak kurang dari 2 km. Saya putuskan ambil kanan; relakan deh Rp 7000,- bayar tol untuk 2 km jalan. Alhamdulillah tidak ada antrian hingga keluar tol berikutnya.. Gak rugi deh bayar... Semakin semangat saya menyetir mobil dan ikut bernyanyi..
Lampu merah terlihat kurang lebih 200 meter di depan, saya harus belok kiri... begitu belok kiri... Hup!! Mobil harus berhenti; ternyata padat!! Mobil maju perlahan dan hanya beberapa meter, kemudian berhenti lagi. Beberapa saat kemudian, jalan lagi.... hup!! berhenti lagi.. Begitu seterusnya sampai kurang lebih 3 km yang memakan waktu kurang lebih 45 menit... Terpaksa kaki kiri saya berkali-kali menginjak kopling, kaki kanan berkali-kali menginjak rem bergantian dengan gas... Oow.. kasiannya ini kaki...
Saya jadi inget pada saat berlatih di Fitness Center... Pada saat bolak balik menginjak kopling, kaki saya berlatih otot apa ya??? Sepertinya otot yang di pergelangan kaki, betis, dan paha bagian depan... Berapa repetisi ya tadi?? Lebih dari 30 kali repetisi kayanya... Berapa set ya?? Hahaha... Terus peregangannya gimana?? Kata Personal Trainer; kaki yang berlatih diangkat dan diluruskan ke kursi dengan posisi kita tetap berdiri, kemudian tangan memegang ujung jari-jari dan ditarik ke arah badan. Kemudian, dengan posisi berdiri, kaki dilipat ke arah belakang untuk peregangan di bagian paha depan... Waduh... tapi yang berlatih cuman kaki kiri yaaa... gimana nih yang kanan? Gerakkan kaki kanan seolah-olah sedang nyetir dan macet di jalan... Bener gak siiihhh??? Hihi.. ntar tanya lagi deh...
Dalam setiap kesempatan; meskipun keadaan kurang menyenangkan... selalu ada sisi positifnya.. kalaudicari.com
Selamat mencoba mencari sisi positif dari keadaan kurang menyenangkan...
Sabtu, 13 Februari 2010
Bad Mood....
Bad Mood.... siapa yang belum pernah ngerasain? Pasti hampir semua pernah ngerasain.. Apa sih yang terlihat kalau orang lagi Bad Mood??? Mungkin tampangnya menyeramkan, nggak pernah senyum, nggak ngomong, diajak ngomong nggak komentar, uring-uringan, dia ada tapi nggak ada... maksudnya fisiknya sih ada, tapi kayak nggak ada nyawanya... Nggak enak banget berdekatan dengan orang yang sedang Bad Mood...
My Personal Trainer sedang Bad Mood... ciri-ciri yang tadi di atas terlihat jelas... Saya sebagai member yang sedang berlatih sangat tidak nyaman. Rasanya pengen marah, pengen cepet pulang; padahal waktu berlatih 1 jam lamanya... Rasanya seperti berjam-jam. Sebetulnya saya mencoba untuk bertanya; what happened?? Tapi... bukan urusan gue kali yaaaa... tidak dijawab..
Latihan hari itu tetap berjalan, hanya terdengar instruksi; 15 x repetisi, 3 set ya.. satu.., dua..,tiga.., dst. Pada saat istirahat sejenak, tidak ada percakapan; saya takut untuk bertanya, Personal Trainer sedang mikirin dirinya sendiri. Biasanya gak kayak begitu pada saat berlatih; ada sedikit becanda, ngobrolin makanan, diri sendiri, hobby, cita-cita, kegiatan lain diluar... pokoknya suasana berlatih tidak kaku dan menyenangkan. Meskipun ada becandanya, latihan tetap serius; nggak ada ampun pada saat angkat beban; nggak boleh cengeng, harus bisa sampai betul-betul nggak kuat. Tapi..., My Personal Trainer sedang Bad Mood, nggak tau apa sebabnya. Siapa yang menjadi korban?? Saya, sebagai membernya. Boleh nggak sih kayak gitu??? Saya kan client lho... udah bayar mahal untuk berlatih...
Saya mencoba untuk mengerti, bahwa semua orang punya masalah dan kadang-kadang tidak bisa menyembunyikan bahwa kita sedang mempunyai masalah. Apalagi My Personal Trainer masih sangat muda, idealis, merasa benar sendiri, dan belum percaya bahwa orang itu harus berubah untuk menjadi yang lebih baik. "Inilah saya" , itu yang ada di benaknya, gak bisa dibelokin dikit ke kanan, dibelokin dikit ke kiri. Ihhhh.. gemes deh... Dulu saya gitu nggak sih waktu seumur sama dia??
Sekali latihan...., maklum deh... mungkin lagi ada masalah dengan pacarnya. Latihan ke dua... e koq masih sama ya... agak gerah ni gue... Pernah saking nyebelinnya latihan hari itu, saya lingkari komentar "TIDAK MEMUASKAN" di form yang harus saya tanda tangani setelah latihan. Latihan berikutnya... agak baekan.. lagi sadar kali dia kalau dia sedang berhadapan dengan Client; bukan ibunya, adiknya, pacarnya, atau siapapun yang boleh2 aja menerima akibat dari Bad Mood nya dia.
Teman latihan saya; yang sama2 menggunakan Personal Trainer menyarankan saya untuk mengganti Personal Trainer, karena Moody banget... nih.. Kadang oke, kadang nggak. Tapi... koq males ya ganti-ganti Personal Trainer. Ini pemikiran saya kenapa saya enggan mengganti Personal Trainer; saya malas beradaptasi lagi, seperti memulai dari awal. Pasti Personal Trainer yang baru pun akan mencari-cari cara yang cocok untuk berlatih dengan saya; maksudnya bukan cara latihannya, tapi lebih ke cara berkomunikasi. Dan lagi, Personal Trainer yang baru perlu mengevaluasi sudah sampai mana pencapaian fitness goal saya, dan saya sekarang berada di level fitness seperti apa; berapa speed yang saya sudah mampu pada saat treadmill, berapa beban yang sudah bisa saya angkat, berapa kali push up saya bisa melakukannya, semuanya meraba-raba lagi. Udah gitu, apakah Personal Trainer yang baru akan lebih baik dari yang sekarang? Gambling juga. Pokoknya banyak kegamangan untuk mengganti Personal Trainer. Mungkin pemikiran saya tidak benar, tapi juga tidak salah.
Satu hal lagi adalah masalah disiplin; My Personal Trainer suka terlambat, beberapa kali tidak masuk pada jadwal yang ditentukan. Mungkin karena saya latihan terlalu pagi, sebelum berangkat kerja atau.. mungkin karena sedang Bad Mood. Kadang-kadang akhirnya saya berlatih sendiri.. udah bisa lah dikit2 menggunakan alat2, karena... I don't want to waste my time... Saya sudah sampai tempat berlatih, masa balik lagi pulang.. atau pergi aja langsung ke kantor. No!! It's not ME.
Kondisi ini membuat saya sedikit tergoncang motivasinya, mental saya agak drop.. Untung Fitness Goal saya sudah tercapai dari sisi angka2; berat badan, body mass index, kadar lemak tubuh. Tinggal mengencangkan otot, melatih fleksibilitas tubuh, dan mantain result yang sudah tercapai.
Mengatasi kondisi ini; saya berusaha untuk tetap stabil moodnya... saya tetap hadir di jadwal latihan saya, tetap berlatih dengan serius meskipun kurang nyaman, saya mengikuti kelas2 yang ada supaya tidak bosan; ikut RPM class, Body Pump Class, Yoga, saya juga mempunyai teman bercerita untuk saling memberi semangat.
Membuat tetap termotivasi untuk terus Berlatih lebih sulit dibandingkan dengan Latihannya itu sendiri. Perlu memaksa diri sendiri untuk tetap termotivasi. Bayangkan hasil yang akan didapat, uang yang sudah dikeluarkan, waktu yang sudah diinvestasikan, menahan diri untuk tidak makan semaunya, tenaga yang sudah dikeluarkan, itu membuat motivasi meningkat kembali.
Tapi, akhirnya pertahanan saya runtuh, kesabaran saya terhadap Personal Trainer yang kedua habis... Saya putuskan untuk mengganti Personal Trainer saya. Mudah2an semua akan baik2 saja..
Ini yang saya belajar; Mental seseorang pada saat memutuskan untuk bekerja; apalagi di bidang jasa dimana kita berhubungan dengan Client harus disiapkan. Kita harus bisa memilah dimana kita bisa mengekspresikan Mood yang tidak baik, apakah Client berhak mendapatkan itu?? Tentunya tidak. Menghormati waktu yang dimiliki Client membuat kita berusaha untuk menepati waktu. Banyak cara untuk tidak terlambat; istirahat lebih cepat, menggunakan alat bantu untuk bangun lebih awal (weker, teman, satpam), dan yang terpenting adalah niat untuk tidak terlambat.
Usia yang masih belia perlu digembleng untuk mempersiapkan mental ini. Perusahaan mempunyai andil yang besar dalam penggemblengan karyawannya.
Saya sebagai Client belajar bahwa mungkin saya yang menyebabkan Personal Trainer Bad Mood, perlu ada komunikasi yang membuat semua tidak menjadi salah paham. Saya juga harus lebih cepat mengambil keputusan untuk supaya motivasi saya tetap terjaga dan objektif saya tercapai.
Dengan tidak mengurangi rasa terima kasih saya sudah dibantu untuk mencapai Goal Fitness saya, saya juga minta maaf kalau saya sebagai Client sangat merepotkan. No hurt feeling yaa... semua untuk kebaikan bersama...
Selamat datang Personal Trainer saya yang baru...
My Personal Trainer sedang Bad Mood... ciri-ciri yang tadi di atas terlihat jelas... Saya sebagai member yang sedang berlatih sangat tidak nyaman. Rasanya pengen marah, pengen cepet pulang; padahal waktu berlatih 1 jam lamanya... Rasanya seperti berjam-jam. Sebetulnya saya mencoba untuk bertanya; what happened?? Tapi... bukan urusan gue kali yaaaa... tidak dijawab..
Latihan hari itu tetap berjalan, hanya terdengar instruksi; 15 x repetisi, 3 set ya.. satu.., dua..,tiga.., dst. Pada saat istirahat sejenak, tidak ada percakapan; saya takut untuk bertanya, Personal Trainer sedang mikirin dirinya sendiri. Biasanya gak kayak begitu pada saat berlatih; ada sedikit becanda, ngobrolin makanan, diri sendiri, hobby, cita-cita, kegiatan lain diluar... pokoknya suasana berlatih tidak kaku dan menyenangkan. Meskipun ada becandanya, latihan tetap serius; nggak ada ampun pada saat angkat beban; nggak boleh cengeng, harus bisa sampai betul-betul nggak kuat. Tapi..., My Personal Trainer sedang Bad Mood, nggak tau apa sebabnya. Siapa yang menjadi korban?? Saya, sebagai membernya. Boleh nggak sih kayak gitu??? Saya kan client lho... udah bayar mahal untuk berlatih...
Saya mencoba untuk mengerti, bahwa semua orang punya masalah dan kadang-kadang tidak bisa menyembunyikan bahwa kita sedang mempunyai masalah. Apalagi My Personal Trainer masih sangat muda, idealis, merasa benar sendiri, dan belum percaya bahwa orang itu harus berubah untuk menjadi yang lebih baik. "Inilah saya" , itu yang ada di benaknya, gak bisa dibelokin dikit ke kanan, dibelokin dikit ke kiri. Ihhhh.. gemes deh... Dulu saya gitu nggak sih waktu seumur sama dia??
Sekali latihan...., maklum deh... mungkin lagi ada masalah dengan pacarnya. Latihan ke dua... e koq masih sama ya... agak gerah ni gue... Pernah saking nyebelinnya latihan hari itu, saya lingkari komentar "TIDAK MEMUASKAN" di form yang harus saya tanda tangani setelah latihan. Latihan berikutnya... agak baekan.. lagi sadar kali dia kalau dia sedang berhadapan dengan Client; bukan ibunya, adiknya, pacarnya, atau siapapun yang boleh2 aja menerima akibat dari Bad Mood nya dia.
Teman latihan saya; yang sama2 menggunakan Personal Trainer menyarankan saya untuk mengganti Personal Trainer, karena Moody banget... nih.. Kadang oke, kadang nggak. Tapi... koq males ya ganti-ganti Personal Trainer. Ini pemikiran saya kenapa saya enggan mengganti Personal Trainer; saya malas beradaptasi lagi, seperti memulai dari awal. Pasti Personal Trainer yang baru pun akan mencari-cari cara yang cocok untuk berlatih dengan saya; maksudnya bukan cara latihannya, tapi lebih ke cara berkomunikasi. Dan lagi, Personal Trainer yang baru perlu mengevaluasi sudah sampai mana pencapaian fitness goal saya, dan saya sekarang berada di level fitness seperti apa; berapa speed yang saya sudah mampu pada saat treadmill, berapa beban yang sudah bisa saya angkat, berapa kali push up saya bisa melakukannya, semuanya meraba-raba lagi. Udah gitu, apakah Personal Trainer yang baru akan lebih baik dari yang sekarang? Gambling juga. Pokoknya banyak kegamangan untuk mengganti Personal Trainer. Mungkin pemikiran saya tidak benar, tapi juga tidak salah.
Satu hal lagi adalah masalah disiplin; My Personal Trainer suka terlambat, beberapa kali tidak masuk pada jadwal yang ditentukan. Mungkin karena saya latihan terlalu pagi, sebelum berangkat kerja atau.. mungkin karena sedang Bad Mood. Kadang-kadang akhirnya saya berlatih sendiri.. udah bisa lah dikit2 menggunakan alat2, karena... I don't want to waste my time... Saya sudah sampai tempat berlatih, masa balik lagi pulang.. atau pergi aja langsung ke kantor. No!! It's not ME.
Kondisi ini membuat saya sedikit tergoncang motivasinya, mental saya agak drop.. Untung Fitness Goal saya sudah tercapai dari sisi angka2; berat badan, body mass index, kadar lemak tubuh. Tinggal mengencangkan otot, melatih fleksibilitas tubuh, dan mantain result yang sudah tercapai.
Mengatasi kondisi ini; saya berusaha untuk tetap stabil moodnya... saya tetap hadir di jadwal latihan saya, tetap berlatih dengan serius meskipun kurang nyaman, saya mengikuti kelas2 yang ada supaya tidak bosan; ikut RPM class, Body Pump Class, Yoga, saya juga mempunyai teman bercerita untuk saling memberi semangat.
Membuat tetap termotivasi untuk terus Berlatih lebih sulit dibandingkan dengan Latihannya itu sendiri. Perlu memaksa diri sendiri untuk tetap termotivasi. Bayangkan hasil yang akan didapat, uang yang sudah dikeluarkan, waktu yang sudah diinvestasikan, menahan diri untuk tidak makan semaunya, tenaga yang sudah dikeluarkan, itu membuat motivasi meningkat kembali.
Tapi, akhirnya pertahanan saya runtuh, kesabaran saya terhadap Personal Trainer yang kedua habis... Saya putuskan untuk mengganti Personal Trainer saya. Mudah2an semua akan baik2 saja..
Ini yang saya belajar; Mental seseorang pada saat memutuskan untuk bekerja; apalagi di bidang jasa dimana kita berhubungan dengan Client harus disiapkan. Kita harus bisa memilah dimana kita bisa mengekspresikan Mood yang tidak baik, apakah Client berhak mendapatkan itu?? Tentunya tidak. Menghormati waktu yang dimiliki Client membuat kita berusaha untuk menepati waktu. Banyak cara untuk tidak terlambat; istirahat lebih cepat, menggunakan alat bantu untuk bangun lebih awal (weker, teman, satpam), dan yang terpenting adalah niat untuk tidak terlambat.
Usia yang masih belia perlu digembleng untuk mempersiapkan mental ini. Perusahaan mempunyai andil yang besar dalam penggemblengan karyawannya.
Saya sebagai Client belajar bahwa mungkin saya yang menyebabkan Personal Trainer Bad Mood, perlu ada komunikasi yang membuat semua tidak menjadi salah paham. Saya juga harus lebih cepat mengambil keputusan untuk supaya motivasi saya tetap terjaga dan objektif saya tercapai.
Dengan tidak mengurangi rasa terima kasih saya sudah dibantu untuk mencapai Goal Fitness saya, saya juga minta maaf kalau saya sebagai Client sangat merepotkan. No hurt feeling yaa... semua untuk kebaikan bersama...
Selamat datang Personal Trainer saya yang baru...
Langganan:
Postingan (Atom)